Gunung Anak Krakatau Di Lampung Menunjukkan Aktivitas Vulkanik dan  Erupsi Serius 

Lampung, Peristiwa31 Dilihat

Anak Krakatau Terus Berubah
Gunung api pada dasarnya merupakan sistem yang terus bergerak. Magma dari dalam Bumi dapat naik melalui rekahan menuju permukaan. Ketika mencapai permukaan, magma berubah menjadi lava dan berbagai material vulkanik.

Material tersebut kemudian menumpuk di sekitar kawah. Jika proses ini berlangsung berulang kali, tubuh gunung dapat bertambah tinggi dan berubah bentuk.

Namun, prosesnya tidak selalu berarti gunung hanya bertambah besar. Anak Krakatau pernah menunjukkan sisi sebaliknya pada 2018. Aktivitas vulkanik pada tahun tersebut menyebabkan sebagian tubuh gunung longsor ke laut.

Material dalam jumlah besar yang masuk ke laut kemudian memicu tsunami pada 22 Desember 2018 dan menghantam pesisir Banten serta Lampung. Peristiwa itu penting karena menunjukkan bahwa bahaya Anak Krakatau tidak hanya berasal dari lava, abu, atau lontaran batu.

Perubahan bentuk tubuh gunung juga dapat menjadi sumber bahaya. BMKG menyebut longsoran material vulkanik ke laut sebagai salah satu bahaya sekunder yang perlu dipantau karena dapat memicu tsunami non-tektonik.

Namun, erupsi tidak otomatis berarti tsunami akan terjadi. Hingga laporan BMKG tersebut, tidak terdeteksi tsunami maupun perubahan muka air laut yang mengindikasikan tsunami. Potensi tsunami baru menjadi perhatian apabila terjadi mekanisme tertentu, terutama longsoran material gunung api dalam jumlah signifikan ke laut.

Karena itu, pemantauan Anak Krakatau dilakukan bukan hanya dengan melihat tinggi kolom abu atau aktivitas letusannya. Ilmuwan juga perlu mengamati perubahan bentuk gunung, pergerakan massa batuan, aktivitas magma, serta kondisi laut di sekitarnya.

Hal tersebut menjadi semakin penting karena Anak Krakatau masih merupakan gunung api yang relatif muda. Gunung ini lahir dari kawasan yang pernah mengalami kehancuran besar pada 1883, kemudian muncul kembali dari laut dan terus membangun tubuhnya melalui erupsi.

Baca Juga :  Polsek Wonosobo Selesaikan Kasus Pengeroyokan Juru Parkir Melalui  Restorative Justice

Dengan kata lain, Anak Krakatau bukan gunung yang bentuknya sudah selesai. Setiap erupsi dapat menjadi bagian dari proses pembangunan sekaligus perubahan gunung tersebut.

Itulah sebabnya aktivitas terbaru tidak hanya menjadi tontonan lava yang menyembur dari kawah. Bagi ilmuwan, setiap perubahan adalah data untuk memahami bagaimana gunung api muda ini berkembang dan seberapa besar potensi bahayanya di masa depan. (All/Tm)