DPD IWO Indonesia OKI Kecam Dugaan Penganiayaan Terhadap Wartawan Oleh Terduga Oknum Ormas Di Mapolda Sumsel 

Halokantinews.OKI.Palembang —Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Wartawan Online (IWO) Indonesia Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Aliaman, S.H., mengecam dugaan penganiayaan dan intimidasi terhadap tiga wartawan yang tengah menjalankan tugas jurnalistik saat meliput kegiatan aksi demo mahasiswa dan massa Cipayung Plus di depan Mapolda Sumatera Selatan terkait Karhutlah yang berakhir ricuh dan bentrok dengan oknum diduga kelompok ormas pada Selasa (13/10/2026).

Ketiga wartawan tersebut juga mengaku mengalami upaya perampasan telepon genggam serta tekanan untuk menghapus rekaman video dan gambar hasil peliputan oleh sekelompok orang yang berbaju hitam hitam dengan penutup wajah.

Aliaman menegaskan, kekerasan dan intimidasi terhadap wartawan tidak dapat dibenarkan, terlebih ketika mereka sedang menjalankan tugas mendokumentasikan peristiwa dan menyampaikan informasi kepada masyarakat.

“Ini merupakan preseden buruk, untuk itu DPD IWO Indonesia Kabupaten OKI mengutuk keras tindakan kekerasan dan intimidasi terhadap wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik. Apalagi, jika benar terjadi pemukulan, perampasan telepon genggam, serta upaya menghapus video dan gambar hasil peliputan,” tandasnya.

Lanjutnya, tindakan seperti ini tidak dapat dibenarkan karena wartawan bekerja untuk merekam fakta dan menyampaikan informasi kepada masyarakat dilindungi Undang Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers dan bagi yang melanggarnya dapat dipidana, tegas Aliaman, Rabu (14/10/2026).

Adapun 3 (tiga) orang jurnalis yang diduga menjadi korban dalam insiden tersebut yakni Mulyadi, wartawan Pal TV; Rahmad Kurniawan dari Tribun Sumsel; serta Yola Dwi Rosdiana, jurnalis Ketik.com yang bertugas di wilayah Polda Sumsel.

Dua dari tiga wartawan tersebut dilaporkan mengalami luka-luka dan harus mendapatkan penanganan medis di RS Bhayangkara Palembang.

Berdasarkan keterangan para korban, intimidasi terjadi ketika mereka berusaha mendokumentasikan situasi kericuhan sebelum aksi demonstrasi dimulai.

Baca Juga :  Keluarga Marga Danau Membangun Kerukunan Antar Putra dan Putri Asli Marga Danau Pedamaran Menjadi Satu

Salah seorang wartawan mengungkapkan, dirinya bersama rekan-rekannya tiba-tiba dikejar dan diminta menghapus rekaman video. Saat berusaha mempertahankan telepon genggam yang menyimpan bukti peliputan, mereka justru diduga mengalami penganiayaan.

“Tiba-tiba kami dikejar, disuruh menghapus video dan diintimidasi. Karena kami berusaha menyelamatkan handphone, sebab bukti-bukti ada di situ, kami malah dianiaya,” ungkapnya.